Saturday, March 24, 2018

Ironi Scolari: Membawa Kejayaan sekaligus Keterpurukan Brasil

Oleh Akhmad Zamroni Sw.

Ekspresi kekesalan Scolari saat tim asuhannya tertinggal 7-0
dari Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014 (Foto: merdeka.com) 

Luiz Felipe Scolari adalah salah satu ironi besar dalam sejarah sepak bola Brasil. Ia dianggap membawa kejayaan sepak bola Brasil, tetapi sekaligus juga mengempaskan dan menghancurkannya. Sebagai pelatih tim nasional Brasil, Scolari pernah mengantarkan tim nasional Brasil ke puncak prestasi tertinggi dunia, tetapi pernah pula membuatnya terpuruk ke jurang aib kepiluan.
Pada turnamen Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, Scolari sukses mengantarkan Brasil menjadi juara dengan menghantam Jerman 2-0 dalam partai final. Ia membuktikan mampu menjadi pelatih bertangan dingin yang cemerlang. Namun, pada Piala Dunia 2014 yang justru digelar di Brasil, ia benar-benar menjadikan Brasil sebagai tim yang compang-camping saat dibantai Jerman 1-7  dalam partai semifinal. Ketika itu ia benar-benar tampak seperti pelatih amatiran yang baru belajar melatih.
Kekalahan dari Jerman 1-7 itu hingga kini menjadi air terbesar yang paling memalukan, paling memilukan, serta paling membuat sepak bola Brasil terhina, teraniaya, dan terendahkan. Brasil yang dikenal  sebagai tim terkemuka dunia yang meraih gelar juara dunia lima kali serta memiliki rekor selalu menang melawan Jerman dalam turnamen resmi FIFA (Piala Dunia dan Piala Konfederasi) seperti berubah menjadi tim rongsokan kelas tiga yang tak layak tampil di semifinal Piala Dunia. Dan tragedi ini ironisnya justru terjadi di tanah Brasil sendiri (Estadio Mineirao, Belo Horizonte), bukan di Eropa dan apalagi di Jerman.
Jerman begitu mudah meraih kemenangan. Sebaliknya, Brasil seperti tim yang baru belajar bermain sepak bola yang masih serbadungu dalam bertahan dan mencetak gol ke gawang lawan. Brasil benar-benar jatuh dan terempas ke level terendah dalam konstelasi sepak bola dunia.
Brasil tak pernah mengalami kekalahan setelak dan semudah itu dalam sejarah sepak bola mereka, apalagi terjadi di Brasil sendiri. Kekalahan itu sangat mencoreng sejarah sepak bola mereka yang sebelumnya sangat cemerlang. Akibat kekalahan yang luar biasa itu, semua catatan prestasi brilian Brasil dalam gelanggang sepak bola dunia seolah-olah lenyap dan terlupakan. Masyarakat dan bangsa Brasil yang menjadikan sepak bola hampir seperti agama pun menjadi penanggung aib yang sangat memalukan.
Scolari dianggap banyak pihak sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas aib itu. Sebagai pelatih, dialah yang memilih pemain, kemudian meramu dan membentuknya menjadi tim, serta membuat keputusan dan strategi saat tim asuhannya turun bertanding. Baik buruknya kinerja tim serta kalah menangnya tim dalam pertandingan menjadi cerminan kemampuan pelatih dalam menangani tim.
Namun, materi pemain Brasil dalam Piala Dunia 2002 dan 2014 memang berbeda. Secara umum, kualitas secara individual dan tim, Brasil 2002 lebih unggul, bahkan jauh lebih unggul dibandingkan Brasil 2014. Brasil 2002 dihuni oleh pemain-pemain dengan kualitas prima di semua lini. Di lini belakang Brasil 2002 memiliki Roberto Carlos, Cafu, dan Lucio; di lini tengah memiliki Kaka, Rivaldo, Edmilson, dan Juninho; serta di depan ada Ronaldo dan Ronaldinho. Dengan materi pemain-pemain kelas wahid seperti ini, Brasil 2002 mungkin hanya kalah oleh Brasil 1970 (Pele cs.) dan Brasil 1982 (Zico cs.).
Adapun Brasil 2014 praktis hanya memiliki beberapa gelintir pemian dengan kualitas prima (tidak lebih dari tiga pemain saja). Salah satunya adalah Neymar, pemain terbaik dengan skill  paling prima dalam tim 2014, yang saat  melawan Jerman justru tidak turun bertanding akibat cedera. Brasil 2014 sama sekali tidak masuk dalam deretan tim-tim terbaik Brasil. Bahkan kekalahan 1-7 dari Jerman di kandang sendiri, dapat dikatakan menjadikan Brasil 2014 sebagai tim Brasil paling buruk sepanjang sejarah kiprah mereka di laga internasional.
Dan citra negatif itu tidak dapat dilepaskan dengan sosok Luiz Felipe Scolari. Dialah yang menyeleksi pemain dan membangun tim. Dialah yang menerima hujatan dan kutukan rakyat Brasil saat tim asuhannya  kalah memalukan melawan Jerman, sebagaimana dia juga yang mendapat pujian dan sanjungan saat tim Samba mengalahkan lawan yang sama dalam Piala Dunia 12 tahun sebelumnya.