![]() |
| Ekspresi kekesalan Scolari saat tim asuhannya tertinggal 7-0 dari Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014 (Foto: merdeka.com) |
Luiz
Felipe Scolari adalah salah satu ironi besar dalam sejarah sepak bola Brasil.
Ia dianggap membawa kejayaan sepak bola Brasil, tetapi sekaligus juga mengempaskan
dan menghancurkannya. Sebagai pelatih tim nasional Brasil, Scolari pernah mengantarkan
tim nasional Brasil ke puncak prestasi tertinggi dunia, tetapi pernah pula membuatnya
terpuruk ke jurang aib kepiluan.
Pada
turnamen Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, Scolari sukses
mengantarkan Brasil menjadi juara dengan menghantam Jerman 2-0 dalam partai
final. Ia membuktikan mampu menjadi pelatih bertangan dingin yang cemerlang.
Namun, pada Piala Dunia 2014 yang justru digelar di Brasil, ia benar-benar
menjadikan Brasil sebagai tim yang compang-camping saat dibantai Jerman
1-7 dalam partai semifinal. Ketika itu
ia benar-benar tampak seperti pelatih amatiran yang baru belajar melatih.
Kekalahan
dari Jerman 1-7 itu hingga kini menjadi air terbesar yang paling memalukan,
paling memilukan, serta paling membuat sepak bola Brasil terhina, teraniaya,
dan terendahkan. Brasil yang dikenal
sebagai tim terkemuka dunia yang meraih gelar juara dunia lima kali
serta memiliki rekor selalu menang melawan Jerman dalam turnamen resmi FIFA
(Piala Dunia dan Piala Konfederasi) seperti berubah menjadi tim rongsokan kelas
tiga yang tak layak tampil di semifinal Piala Dunia. Dan tragedi ini ironisnya
justru terjadi di tanah Brasil sendiri (Estadio Mineirao, Belo Horizonte),
bukan di Eropa dan apalagi di Jerman.
Jerman
begitu mudah meraih kemenangan. Sebaliknya, Brasil seperti tim yang baru
belajar bermain sepak bola yang masih serbadungu dalam bertahan dan mencetak
gol ke gawang lawan. Brasil benar-benar jatuh dan terempas ke level terendah
dalam konstelasi sepak bola dunia.
Brasil
tak pernah mengalami kekalahan setelak dan semudah itu dalam sejarah sepak bola
mereka, apalagi terjadi di Brasil sendiri. Kekalahan itu sangat mencoreng
sejarah sepak bola mereka yang sebelumnya sangat cemerlang. Akibat kekalahan
yang luar biasa itu, semua catatan prestasi brilian Brasil dalam gelanggang sepak
bola dunia seolah-olah lenyap dan terlupakan. Masyarakat dan bangsa Brasil yang
menjadikan sepak bola hampir seperti agama pun menjadi penanggung aib yang
sangat memalukan.
Scolari
dianggap banyak pihak sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas aib itu.
Sebagai pelatih, dialah yang memilih pemain, kemudian meramu dan membentuknya
menjadi tim, serta membuat keputusan dan strategi saat tim asuhannya turun
bertanding. Baik buruknya kinerja tim serta kalah menangnya tim dalam pertandingan
menjadi cerminan kemampuan pelatih dalam menangani tim.
Namun,
materi pemain Brasil dalam Piala Dunia 2002 dan 2014 memang berbeda. Secara
umum, kualitas secara individual dan tim, Brasil 2002 lebih unggul, bahkan jauh
lebih unggul dibandingkan Brasil 2014. Brasil 2002 dihuni oleh pemain-pemain
dengan kualitas prima di semua lini. Di lini belakang Brasil 2002 memiliki
Roberto Carlos, Cafu, dan Lucio; di lini tengah memiliki Kaka, Rivaldo, Edmilson,
dan Juninho; serta di depan ada Ronaldo dan Ronaldinho. Dengan materi
pemain-pemain kelas wahid seperti ini, Brasil 2002 mungkin hanya kalah oleh
Brasil 1970 (Pele cs.) dan Brasil 1982 (Zico cs.).
Adapun
Brasil 2014 praktis hanya memiliki beberapa gelintir pemian dengan kualitas prima
(tidak lebih dari tiga pemain saja). Salah satunya adalah Neymar, pemain
terbaik dengan skill paling prima dalam tim 2014, yang saat melawan Jerman justru tidak turun bertanding akibat
cedera. Brasil 2014 sama sekali tidak masuk dalam deretan tim-tim terbaik Brasil.
Bahkan kekalahan 1-7 dari Jerman di kandang sendiri, dapat dikatakan menjadikan
Brasil 2014 sebagai tim Brasil paling buruk sepanjang sejarah kiprah mereka di
laga internasional.
Dan
citra negatif itu tidak dapat dilepaskan dengan sosok Luiz Felipe Scolari. Dialah
yang menyeleksi pemain dan membangun tim. Dialah yang menerima hujatan dan
kutukan rakyat Brasil saat tim asuhannya kalah memalukan melawan Jerman, sebagaimana
dia juga yang mendapat pujian dan sanjungan saat tim Samba mengalahkan lawan
yang sama dalam Piala Dunia 12 tahun sebelumnya.

No comments:
Post a Comment